Ayat AL-Qur'an

 | 
Latest Post

Senin, 22 Oktober 2012

K. H. Moh Said



Lahir di Tongan, Malang pada tahun 1901, Wafat Pada 1964 Dimakamkan dilingkungan Pesantren PPAI Kepanjen.Pendidikan NIS, ELS, nyantri di Kiai Mukti, Kasin,  Ponpes Canga'an Bangil, Ponpes Salafiyah Siwalan Panji, Sidoarjo.
Perjuangan/Pengabdian : Pendiri Ponpes Sono Tengah, Pakisaji, Pendiri Pesantren Karangsari Bantur, Pendiri Ponpes PPAI Ketapang, Kepanjen, Penggerak tentara Hisbullah, Rois Syuriah NU Cabang Malang, menjadi Ketua Misi Ulama se Jatim ke Moskow, Rusia, dan Karachi mewakili Partai NU wilayah Jawa Timur.  
Kiai Low Profile, yang Jadi Delegasi Ulama ke Rusia
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. Al-Jaatsiyah:18)
Ayat ke-18 dalam Al Qur'an surat Al-Jaatsiyah itulah, yang selalu ditanamkan KH Moh. Said kepada santrinya. Harapannya, agar santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Agama Islam (PPAI) Ketapang, Kepanjen, yang diasuhnya tidak model-model. "Kalau memang hanya bisa membaca Al Fatihah, ya ajarkan Al Fatihah itu," ujarnya kala itu.
Prinsip kiai kelahiran Tongan, Kota Malang pada tahun 1901 ini, sebagai seorang pemimpin harus bisa mencetak atau mengkader santrinya menjadi pemimpin. Karenanya, tak heran jika kemudian Kiai Said, putra dari H Moh. Anwar dan Ny Lis ini berhasil mengkader santrinya menjadi kiai, ustadz, dan tokoh masyarakat. Seperti KH Abdul Hanan, KH Alwi Murtadho, Pengasuh PPAI Al Ihsan, Blambangan, Bululawang, KH Abdul Basyir, KH. Drs Mahmud Zubaidi, Ketua MUI Kabupaten Malang, yang juga Pengurus NU Cabang Kabupaten Malang, Ustadz H Ismail Qodly, guru agama di SLTP Shalahuddin, Gus Mad Suyuti Dahlan, Pengasuh Ponpes Nurul Ulum, Kacuk, Sukun, KH Ahmad Su'aidi, yang kini menjadi Pengasuh PPAI Ketapang, menggantikan beliau, dan puluhan kiai lainnya, yang tersebar di Malang dan sekitarnya.
Pada masa penjajahan Belanda, Kiai Said termasuk beruntung. Karena pada usia 10 tahun, beliau dapat mengenyam pendidikan dan berhasil menamatkan pendidikan NIS tahun 1911, dan 5 tahun kemudian menamatkan ELS tahun 1916. Setamat dari ELS beliau bekerja menjadi Komis Pos di Jember  selama 9 tahun, mulai tahun 1916 sampai 1925.
Sejak masa muda, beliau memang dikenal sebagai orang yang suka bekerja keras, dan tekun belajar. Selain membantu orang tuanya, juga berdagang, serta terkadang bertani.
Beliau menikah pada tahun 1925, dengan Siti Fatimah, seorang wanita dari Kidul Pasar Malang. Waktu itu, beliau masih berstatus sebagai pegawai di Kantor Gubernur di Surabaya tahun 1925 – 1927. Dalam pernikahan tersebut, Kiai Said tidak sampai dikarunia putra.
Secara khusus, awalnya Kiai Said hanya nyantri di beberapa kiai di Malang, seperti ngaji pada Kiai Mukti, Kasin, dan beberapa kiai lainnya. Selain itu,  juga pernah nyantri ke Canga'an Bangil. Kemudian nyantri ke Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji Sidoarjo pada tahun 1926 – 1931.
Bekerja menjadi pegawai pemerintah Belanda, ternyata tidak memuaskan hati beliau, hingga dia mengundurkan diri. Karenanya, setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren beliau mendirikan dan mengasuh Ponpes Sono Tengah Pakisaji Malang pada tahun 1931 sampai 1947. Pada tahun 1948, beliau mendirikan Pesantren Karangsari di Bantur. Setelah itu, sekitar tahun 1949 mendirikan Ponpes PPAI Ketapang, Kepanjen.
Di masa pendudukan penjajah Belanda, Kiai Said, turut berjuang bersama masyarakat untuk mengusir penjajah. Bahkan beliau termasuk tokoh yang menggerakkan tentara Hisbullah pada tahun 1945 –1948.
Dikalangan santri, dan masyarakat, beliau dikenal sebagai ulama yang bijaksana, serta dekat umaro' dan organisasi yang allamah waro’ dan sufi. Selain itu, juga aktif di organisasi NU, dan sempat menjadi Rois Syuriah NU Cabang Malang pada tahun 1950 –1965. Bahkan, pernah ditunjuk menjadi Ketua Misi Ulama se Jatim ke Moskow, Rusia, dan Karachi mewakili Partai NU wilayah Jawa Timur.
Menurut Gus Mad Suyuti Dahlan, Kiai Said itu sosok sufi yang berpendirian teguh, suka menyendiri, dan menjauhi keramaian. Meski beliau lebih menekankan pada syariat (fiqih), tapi juga mengamalkan Thoriqoh Kholwatiyah dengan kitab susunannya Khulasoh Dzikril Ammah wah Khossoh, yang didirikan Syeh Kholwati. "Beliau itu hampir 27 tahun tidak pernah telat melaksanakan shalat berjama'ah. Dan pelajaran itu, selalu ditekankan pada santri-santrinya," ujar Gus Mad Suyuti Dahlan.
Demikian juga dalam bidang pendidikan, beliau sangat memperhatikan para generasi muda. Para santrinya diarahkan untuk menjadi penganjur agama Islam atau da’i, serta menjadi kader-kader dakwah yang memperjuangkan agama Islam ala ahlussunnah wal jama’ah, serta menyebarluaskan ajaran ponpes yang sehaluan dengan PPAI Ketapang.  
Kiai Said dipanggil Allah SWT pada tahun 1964 dalam usia 63 tahun, dan dimakamkan di sekitar pesantrennya. Pernah beliau sewaktu sakit dikunjungi Habib Abdul Qodir Bil Faqih, Pengasuh Pesantren Darul Hadits Al Faqihiyah yang kebetulan diantarkan Gus Suyuti Dahlan. Dalam pertemuan itu, Habib Abdul Qodir sempat menawarkan obat dari Jerman, yang sangat istimewa dan mujarab kepada Kiai Said. Namun, dengan segala kerendahan hati tawaran tersebut tidak diterima.
Lantas Kiai Said menceritakan, jika dirinya pernah bermimpi hatinya itu pecah jadi dua. Pecahan itu kemudian menjadi tulisan dalam bahasa Arab, yang artinya, "Tidak ada obat untuk penyakit ini, kecuali dengan dzikrullah."
"Kalau begitu, tidak usah saya beri obat Pak Kiai. Dzikir itu saja diteruskan," tutur Gus Mad Suyuti menirukan perkataan Habib Abdul Qodir Bil Faqih kepada Kiai Said waktu itu.
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Kamis, 11 Oktober 2012

Imam Asy-Syafi'i

Abลซ สฟAbdullฤh Muhammad bin Idrฤซs al-Shafiสฟฤซ atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุฏุฑูŠุณ ุงู„ุดุงูุนูŠ) yang akrab dipanggil Imam Syafi'i (Gaza, Palestina, 150 H / 767 - Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.
Saat usia 20 tahun, Imam Syafi'i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.
Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi'i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.

Kelahiran dan kehidupan keluarga

Kelahiran

Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza, Palestina, namun di antara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.

Nasab

Imam Syafi'i merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.
Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah bersabda:
Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.
—HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 - 66

Masa belajar

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.

Belajar di Makkah

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.
Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.
Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Belajar di Madinah

Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.
Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.
Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”
Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Ia banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Di Yaman

Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di Baghdad, Irak

Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Ia memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir

Imam Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Karya tulis

Ar-Risalah

Salah satu karangannya adalah “Ar risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah,”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Mazhab Syafi'i

Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),”

Al-Hujjah

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.

Al-Umm

Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Ibnu Athoillah

Tajuddin, Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Atha'illah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki asy-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya'ribbin Qahthan, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa'ribah.
Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas.

Dengan menelisik jalan hidupnya, Doktor Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 Hijriyah. Ayahnya termasuk semasa dengan Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili. Pendiri Tarekat Syadziliyah. Sebagaimana diceritakan Ibnu Atha'illah dalam kitabnya ''Lathaiful Minan'':

''Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan:

''Demi Allah! Kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena tikar dan dinding''.

KELUARGA RELIGIUS

Keluarga Ibnu Atha'illah adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan religius, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqh pada masanya. Ibnu Atha'illah remaja sudah belajar pada ulama besar di Iskandariah [Alexandria] seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Juzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atha'illah memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqh, hadits, ushul, dan ilmu-ilmu bahasa Arab, tentu saja juga banyak tokoh-tokoh tasawuf dan Auliya'. Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atha'illah tumbuh sebagai faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjut sampai pada tingkat tasawuf, sehingga membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

MEMADUKAN FIQIH DAN TASAWUF

Ibnu Atha'illah menceritakan dalam kitabnya ''Lathaiful minan'': ''Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atha'illah yaitu Abu al-Abbas al-Mursi mengatakan: ''Kalau anak dari seorang alim fiqh Iskandariah [Ibnu Atha'illah] datang ke sini, tolong beritahu aku''.

Dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: ''Malaikat Jibril telah datang kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang Quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan:

''Wahai Muhammad! Kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka''.

Dengan bijak Nabi mengatakan:

''Tidak. Aku mengharap agar kelak keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka''.

Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqh [kakek Ibnu Atha'illah] demi orang yang alim fiqh ini''.

Pada akhirnya Ibnu Atha'illah memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atha'illah menjadi tiga masa:

Pertama: Masa ini di mulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqh, ushul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqh, dalam hal ini Ibnu Atha'illah bercerita:

''Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau''.

Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dhahir, tapi mereka [ahli tasawuf] mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara ahli dhahir syari'ah menentangnya''.

Kedua: Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini di mulai semenjak ia bertemu dengan gurunya Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya terhadap ulama tasawuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Tarekat [Thariqah] langsung dari gurunya ini. Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini.

Suatu ketika Ibnu Atha'illah mengalami goncangan bathin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya:

''Apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi?. Setelah lama aku merenung, mencerna dan memohon petunjuk Allah subhanahu wata'ala akhirnya aku beranikan diri untuk melihat secara dekat siapa al-Mursi sebenarnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar, maka semuanya akan jelas kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majelisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara'. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku''.

Maka demikianlah, ketila ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meninggalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi. Dalam hal ini Ibnu Atha'illah menceritakan:

''Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dhahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbesit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan:

''Di kota Qous aku mempunyai seorang sahabat namanya Ibnu Naasyi'. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tarekat kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata:

''Tuanku... Apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?''.

Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan:

''Tidak demikian itu tarekat kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah ditentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai juga''.

Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata:

''Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka''.

Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan segala puji bagi Allah yang telah menghapus angan-angan dan kebimbangan yang bersarang dalam hatiku, sepertinya aku baru saja terbangun dari mimpi dan telah melepas pakaianku yang selama ini melekat padaaku. Aku pun rela dan tenang dengan kedudukanku yang diberikan oleh Allah''.

Ketiga: Masa ini di mulai semenjak kepindahan Ibnu Atha'illah dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya keharibaan Yang Maha Pengasih pada tahun 709 Hijriyah. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atha'illah dalam ilmu fiqh dan ilmu tasawuf. Ia membedakan antara Uzlah dan khalwat.

Uzlah menurutnya adalah pemutusan [hubungan] maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik [orang yang uzlah] selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari tipuan dan keterpedayaan dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwat.

Dan khalwat dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, khalwat adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah Azza wa Jalla. Menurut Ibnu Atha'illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya, seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak di dalam rumah yang banyak penghuninya.

Ibnu Atha'illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahun 686 Hijpiyah, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tarekat Syadziliyah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata:
''Ibnu Athaillah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkataan-perkataan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus-shaleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan''.

Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi: ''Ibnu Atha'illah adalah orang yang shaleh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakikat dan orang-orang ahli tarekat''.

Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shangoh. Beliau mempunyai banyak murid yang menjadi ahli fiqh dan tasawuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab ''Thabaqah al-Syafi'iyah al-Kubra''.
Karya sebagai seorang sufi yang alim, Ibnu Atha'illah meninggalkan karangan sebanyak lebih 22 kitab. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, filsafat dan khitabah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Al-Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuk ke dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Kitab ini dikenali juga dengan nama ''al-Hikam al-Atha'iyyah'' untuk membedakannya dari pada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.

KARAMAH IBNU ATHA'ILLAH

Al-Munawi dalam kitabnya ''Al-Kawakib al-Durriyyah mengatakan: ''Syekh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surah Hud sampai pada ayat yang artinya:

''Di antara mereka ada yang celaka dan bahagia...''.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibnu Atha'illah dengan keras:

''Wahai Kamal... Tidak ada di antara kita yang celaka''.

Demi menyaksikan karamah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atha'illah ketika meninggal kelak.
____________

Di antara karamah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibnu Atha'illah sedang thawaf. Dan juga melihat sang guru ada dibelakan maqam Nabi Ibrahim alaihissalam, di Mas'aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya, apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab ''Tidak''. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya:

"Siapa saja yang kamu temui?"

lalu si murid menjawab:

"Tuanku... Saya melihat tuanku di sana".

Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan:

"Orang orang besar itu memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah pasti menjawabnya".
____________

Pada tahun 709 Hijriyah wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam kubur, lebih mendekat pada Sang Kekasih. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena disitulah jasad mulianya berpisah dengan sang jiwa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiringi Kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qarrafah al-Kubra. Wallahu A'lam
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Rabu, 10 Oktober 2012

syekh Ahmad al-Tijani

Tentang pengenalan syekh Ahmad At Tijani, saya akan mengurai Sekilas Biografi Syekh Ahmad al-Tijani. Semoga bermanfaat.
Syekh Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di Al-Jazair. Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw.
Beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal tahun 1230 H., dan dimakamkan di kota Fez Maroko.
Sejak umur tujuh tahun Syekh Ahmad al-Tijani telah hafal al-Qur’an dan sejak kecil beliau telah mempelajari berbagai cabang ilmu seperti ilmu Usul, Fiqh, dan sastra. Dikatakan, sejak usia remaja, Syekh Ahmad al-Tijani telah menguasai dengan mahir berbagai cabang ilmu agama Islam, sehingga pada usia dibawah 20 tahun beliau telah mengajar dan memberi fatwa tentang berbagai masalah agama.
Pada usia 21 tahun, tepatnya pada tahun 1171 H. Syekh Ahmad al-Tijani pindah ke kota Fez Maroko. untuk memperdalam ilmu tasawuf. Selama di Fez beliau menekuni ilmu tasawuf melalui kitab Futuhat al-Makiyyah, di bawah bimbingan al-Tayyib Ibn Muhammad al-Yamhalidan Muhammad Ibn al-Hasan al-Wanjali. Al-Wanjali mengatakan kepada Syekh Ahmad al-Tijani : “Engkau akan mencapai maqam kewalian sebagaimana maqam al-Syazili”. Selanjutnya beliau menjumpai Syekh Abdullah Ibn Arabi al-Andusia, dan kepadanya dikatakan : (Semoga Allah membimbingmu); “Kata-kata ini di ulang sampai tiga kali”. Kemudian beliau berguru kepada Syekh Ahmad al-Tawwasi, dan mendapat bimbingan untuk persiapan masa lanjut. Ia menyarankan kepada Syekh Ahmad al-Tijani untuk berkhalwat (menyendiri) dan berzikir (zikr) sampai Allah memberi keterbukaan (futuh). Kemudian ia mengatakan : “Engkau akan memperoleh kedudukan yang agung (maqam ‘azim)”.
Ketika Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia 31 tahun, beliau mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt., melalui amalan beberapa thariqat. Thariqat pertama yang beliau amalkan adalah thariqat Qadiriyah, kemudian pindah mengamalkan thariqat Nasiriyah yang diambil dari Abi Abdillah Muhammad Ibn Abdillah, selanjutnya mengamalkan thariqat Ahmad al-Habib Ibn Muhammaddan kemudian mengamalkan thariqat Tawwasiyah. Setelah beliau mengamalkan beberapa thariqat tadi, kemudian beliau pindah ke Zawiyah (pesantren sufi) Syekh Abd al-Qadir Ibn Muhammad al-Abyadh.
Pada tahun 1186 H. Beliau berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika beliau tiba di Aljazair, beliau menjumpai Sayyid Ahmad Ibn Abd al-Rahman al-Azhari seorang tokoh thariqat Khalwatiah, dan beliau mendalami ajaran thariqat ini. Kemudian beliau berangkat ke Tunise dan menjumpai seorang Wali bernama Syekh Abd al-Samad al-Rahawi. Di kota ini beliau belajar thariqat sambil mengajar tasawuf.
Ajaran dan Dzikir Tarekat Tijaniyah
Sejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.
Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istghfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-fatih lima ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi ila shirat al-mustaqim wa’ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim) sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali.
Pembacaan wadhifah ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu, setiap hari Jum’at membaca Hayhalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan Allah, Allah, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal dzikir ini at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjamaah. Beberapa syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat.
Satu hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah — yang membedakannya dengan tarekat-tarekat lain — adalah bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi SAW, bukan kemanunggalan dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi SAW. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatikdan metafisis sufi. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal.
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Imam Ghozali

Semua kitab fiqh yang kita baca sekarang asalnya dari kitab karangan Imam Ghozali yaitu “AL BASITH”. Dari  Al Basith ini lahirlah kitab-kitab seperti ; Al Muhith, Bahrul Muhith, Mathlab Ali. Dan Imam Ghozali juga mengarang kitab lain lagi, yaitu AL WASITH, kemudian AL WAJIZ. Dari Al Wajiz inilah pengembangan “Ilmu Fiqh Syafi’iyyah” dimulai oleh para Ulama.
Lalu Imam Rofi’i melahirkan kitab Fathul Aziz, Imam lainnya juga ada, sepeti Ibriz dan Ta’jiz. Dan Fathul Aziz ini diringkas, lalu fathul aziz ini mendapat gelar di kitab-kitab fiqh menjadi “ASHLUR RAUDHAH, dan juga ada lagi ringkasan Fathul Aziz, yaitu Hawi Quzwaini. Kemudian Imam Ghozali juga ada mengarang kitab fiqh: “Khulashah”, dan dari kitab ini Imam Rofi’i melahirkan kitab Muharrar, dan Muharrar ini adalah “ASHLUL MINHAJ”.
Dan pasti kalian semua tahu, yang mensyarahkan kitab “Minhaj” Imam Nawawi ini puluhan ulama, sampai kitab-kitab yang kita baca sekarang adalah ringkasan-ringkasan pendapat dari pensyarah Minhaj.  Jadi asal kitab Fiqh Syafi’iyyah yang kita temui sekarang ini asal puncaknya dari semua karangan Imam Ghozali, karena itu beliau bergelar Hujjatul Islam. Bahkan ada ulama berpendapat, beliau adalah Sayyidul Mushannif Qutbul Ulum. Ada lagi ulama yang mengatakan bahwa kitab-kitab fiqh, tasawuf, tafsir dan lain-lain yang dikarang  ulama setelah Imam Ghozali adalah puncaknya menjiplak karangan Imam Ghozali, tidak ada satu kitab pun yang tak ada nama Imam Ghozali, bahkan kitab Wahabi, sekalipun dalam kitab mereka mencela beliau, tapi kan tetap ada nama beliau disebut orang.
Diriwayatkan dari orang-orang yang pernah bermimpi jumpa Rasul Saw, bahwa Orang yang hendak bertemu Rasulullah dalam keadaan bangun, maka ia wajib melewati 27.999 maqam, misalnya maqam syukur, shobar, hilm, pemurah, tho’at, hafizh, qori dan banyak lagi maqam-maqamnya. Dan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin  semua maqam ini disebutkan, tinggal kita amalkan semua isinya, maka kita akan bisa bertemu Nabi Saw dalam mimpi maupun jaga (bangun), dan bahkan Imam ghozali dari kecil sampai  umur baligh sudah melewati semua maqam ini, dan beliau dapat bertemu langsug dengan Rasul Saw sewaktu bangun, sehingga beliau mulhaq bishshahabat dan boleh memarfu’-kan hadist langsug ke Rasulullah tanpa sanad.
Tidak ada hukum mursal, tadlis, munkar, matruk, dhoif dalam semua riwayat Imam Ghozali. Pokoknya hadist apa pun yang datang dari beliau semuanya shohih lizatihi, karena setiap detik Rasulullah Saw ada di samping beliau. Kalau ada yang tidak percaya dengan yang saya katakan, maka saya jamin di akhir hayat-nya dia akan mati suu’ul khatimah, dan akan menempati neraka selamanya, tidak akan mendapat syafa’at sedikit pun.
Adapun para ulama mentakhrij hadist Ihya’ itu hanya sekedar zhohirnya saja, agar supaya Allah menampakkan mana yang suka men-i’tirodh wali-NYA mana yang berpegang teguh kepada wali-NYA, dan para Imam itu mereka tidak akan meng-i’tirodh Imam Ghozali. Karena mereka juga tahu bahwa Imam Ghozali langsug mengambil hadist ke Rasulullah dalam keadaan bangun, tapi ini harus disembunyikan agar tidak akan banyak orang yang kualat dengan wali-NYA, karena i’tirodh dengan hal ihwal Imam Ghozali. Wallohu a’lam
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Rabi‘ah binti Ismail al-Adawiyah

Rabi‘ah binti Ismail al-Adawiyah, berasal dari keluarga miskin. Dari kecil ia tinggal di Bashrah. Di kota ini namanya sangat harum sebagai seorang manusia suci dan seorang pengkhotbah. Dia sangat dihormati oleh orang-orang saleh semasanya. Mengenai kematiannya ada berbagai pendapat: tahun 135 H/752 M atau tahun 185 H/801 M.
Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, dianggap mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam Islam tashawuf. Orang-orang mengatakan bahwa ia dikuburkan di dekat kota Yerussalem.

RABI’AH, LAHIR DAN MASA KANAK—KANAKNYA
Jika seseorang bertanya: ”Mengapa engkau mensejajarkan Rabi’ah dengan kaum lelaki?”, maka jawabanku adalah bahwa Nabi sendiri pernah berkata: “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa kamu” dan yang menjadi masalah bukanlah bentuk, tetapi niat seperti yang dikatakan Nabi, “Manusia-manusia akan dimuliakan sesuai dengan niat di dalam hati mereka”. Selanjutnya, apabila kita boleh menerima dua pertiga ajaran agama dari ’Aisyah, maka sudah tentu kita boleh pula menerima petunjuk-petunjuk agama dari pelayanan pribadinya itu. Apabila seorang perempuan berubah menjadi ”seorang lelaki” pada jalan Allah, maka ia adaIah sejajar dengan kaum lelaki dan kita tidak dapat menyebutnya sebagai seorang perempuan lagi.
Pada malam Rabi’ah dilahirkan ke atas dunia, tidak ada sesuatu barang berharga yang dapat: ditemukan di dalam rumah orang tuanya, karena ayahnya adalah seorang yang sangat miskin. Si ayah bahkan tidak mempunyai minyak barang setetes pun untuk pemoles pusar puterinya itu. Mereka tidak mempunyai lampu dan tidak mempunyai kain untuk menyelimuti Rabi’ah. Si ayah telah memperoleh tiga orang puteri dan Rabi’ah adalah puterinya yang keempat. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabi’ah (artinya ke-empat).
“Pergilan kepada tetangga kita si anu dan mintalah sedikit minyak sehingga aku dapat menyalakan lampu” isterinya berkata kepadanya.
Tetapi si suami telah bersumpah bahwa ia tidak akan meminta sesuatu jua pun dari manusia lain. Maka pergilah ia, pura-pura menyentuhkan tangannya ke pintu rumah tetangga tersebut lalu kembali Iagi ke rumahnya.
“Mereka tidak mau membukakan pintu” ia melaporkannya kepada isterinya sesampainya di rumah.
Isterinya yang malang menangis sedih. Dalam keadaan yang serba memprihatinkan itu si suami hanya dapat menekurkan kepala ke atas lutut dan terlena. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Nabi. Nabi membujuknya: “JanganIah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu kaum wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku”.
Kemudian Nabi meneruskan; “Besok, pergilah engkau menghadap ‘Isa az-Zadan, Gubernur Bashrah. Di atas sehelai kertas, tuliskan kata-kata berikut ini: ’Setiap malam engkau mengirimkan shalawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah malam jum’at tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal’ “.
Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabi’ah mengucurkan air mata. Ia pun bangkit dan menulis seperti yang telah dipesankan Nabi kepadanya dan mengirimkannya kepada gubernur melalui pengurus rumahtangga istana.
“Berikanlah dua ribu dinar kepada orang-orang miskin”, gubernur memberikan perintah setelah membaca surat tersebut, ”sebagai tanda syukur karena Nabi masih ingat kepadaku. Kemudian berikan empat ratus dinar kepada si syaikh dan katakan kepadanya: ’Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu. Namun tidaklah pantas bagi seorang seperti kamu untuk datang menghadapku. Lebih baik seandainya akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggutku ini. Walaupun demikian, demi Allah, aku bermohon kepadamu, apa pun yang engkau butuhkan katakanlah kepadaku’ “.
Ayah Rabi’ah menerima uang emas tersebut dan membeli sesuatu yang dirasa perlu
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa.[1] Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat, terdapat banyak variasi cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi, sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang telah memperoleh esensi Islam itu sendiri. Ajaran-ajarannya tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut pupuh. Ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Husain ibn Mansur al-Hallaj

Husain ibn Mansur al-Hallaj atau biasa disebut dengan Al-Hallaj adalah salah seorang ulama sufi yang dilahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran Tenggara, pada tanggal 26 Maret 866M. Ia merupakan seorang keturuna Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam. Al-Hallaj merupakan syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
Bagi sebagian ulama islam, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut
Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, "Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, 'Akulah Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri!". Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir'aun adalah kezaliman."
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Selasa, 09 Oktober 2012

Kau ini bagaimana atawa aku harus bagaimana?

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka
Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir aku berfikir kau tuduh aku kafir
aku harus bagaimana?

Kau bilang Bergeraklah aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah aku diam saja kau waspadai
kau ini bagaimana?

Kau suruh aku memegang prinsip aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran aku toleran kau bilang aku plin-plan
aku harus bagaimana?

Aku kau suruh maju aku mau maju kau srimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja aku bekerja kau ganggu aku
kau ini bagaimana?

Kau suruh aku taqwa khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu langkahmu tak jelas arahnya…
aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hokum kebijaksanaanmu menyepelehkannya..
Aku kau suruh berdisiplin kau menyontohkan yang lain…
kau ini bagaimana?

Kau bilang tuhan sangat dekat kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.
Kau bilang suka damai… kau ajak aku setiap hari bertikai        
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh membangun aku membangun kau merusakkannya
Aku Kau suruh menabung aku menabung kau menghabiskannya           
Kau ini Bagaimana?

Kau suruh aku menggarap sawah sawahku kau Tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah aku punya rumah kau meratakkanya dengan tanah
aku harus bagaimana?

Aku kau larang berjudi permainan spekulasimu menjadi-jadi..
Aku kau suruh bertanggungjawab kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bi sowab
kau ini bagaimana?

Kau suruh aku jujur aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar aku sabar kau injak tengkukku…              
aku harus bagaimana?

Aku kau suruh memilih wakilku sudah kupilih kau bertindak semaumu
Kau bilang selelau memikirkanku aku sapa saja kau mersa terganggu…
Kau ini  bagaimana?

Kau bilang bicaralah aku bicara kau bilang aku ceriwis…
Kau bilang jangan banyak bicara aku bungkap kau tuduh aku apatis
aku harus bagaimana?

Kau bilah kritiklah, aku kritik kau marah
Carikan alternatifnya aku carikan alternative kau bilang jangan mendekte saja
kau ini bagaimana?

Aku bilang terserah kau kau tidak mau…
Aku bilang terserah kita kau tak suka
Aku bilang terserah aku kau memakiku..

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana ?

Rembang; 1987
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Jalaluddin Rumi


Jalaludin Rumi atau nama lengkapnya Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri adalah sang pujangga dari tanah Persia. Selain penyair dia juga tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya dia lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh sebuah kota kecil di kota Khurasan, Afghanistan dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di Konya (Turki).

Jalaluddin Rumi, ia mengekspresikannya tulisannya dalam bahasa cinta yang syarat makna. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

Puisi Cinta

CINTA
“Dia adalah orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya,
Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya.
Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya,
Kekasih yang abadi. 
Dia adalah orang yang Saya cintai,
Dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
 
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta
yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan
dia dan mereka adalah dia.Ini adalah sebuah rahasia
Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.
Read more: http://hzndi.blogspot.com/2012/04/menambahkan-widget-facebook-like-dan-di.html#ixzz295OKVDEO

PROFIL KAWULO GUSTI

INFO HARI

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KAWULO GUSTI - All Rights Reserved