Lalu Imam Rofi’i melahirkan kitab Fathul Aziz, Imam lainnya juga ada, sepeti Ibriz dan Ta’jiz.
Dan Fathul Aziz ini diringkas, lalu fathul aziz ini mendapat gelar di
kitab-kitab fiqh menjadi “ASHLUR RAUDHAH, dan juga ada lagi ringkasan
Fathul Aziz, yaitu Hawi Quzwaini. Kemudian Imam Ghozali
juga ada mengarang kitab fiqh: “Khulashah”, dan dari kitab ini Imam
Rofi’i melahirkan kitab Muharrar, dan Muharrar ini adalah “ASHLUL
MINHAJ”.
Dan pasti kalian semua tahu, yang mensyarahkan kitab
“Minhaj” Imam Nawawi ini puluhan ulama, sampai kitab-kitab yang kita
baca sekarang adalah ringkasan-ringkasan pendapat dari pensyarah Minhaj. Jadi asal kitab Fiqh Syafi’iyyah yang kita temui sekarang ini asal puncaknya dari semua karangan Imam Ghozali, karena itu beliau bergelar Hujjatul Islam. Bahkan ada ulama berpendapat, beliau adalah Sayyidul Mushannif Qutbul Ulum. Ada lagi ulama yang mengatakan bahwa kitab-kitab fiqh, tasawuf, tafsir dan lain-lain yang dikarang ulama setelah Imam Ghozali adalah puncaknya menjiplak karangan Imam Ghozali, tidak ada satu kitab pun yang tak ada nama Imam Ghozali, bahkan kitab Wahabi, sekalipun dalam kitab mereka mencela beliau, tapi kan tetap ada nama beliau disebut orang.
Diriwayatkan dari orang-orang yang pernah bermimpi jumpa
Rasul Saw, bahwa Orang yang hendak bertemu Rasulullah dalam keadaan
bangun, maka ia wajib melewati 27.999 maqam, misalnya maqam syukur, shobar, hilm, pemurah, tho’a t, hafizh, qori dan banyak lagi maqam-maqamnya. Dan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin
semua maqam ini disebutkan, tinggal kita amalkan semua isinya, maka
kita akan bisa bertemu Nabi Saw dalam mimpi maupun jaga (bangun), dan
bahkan Imam ghozali dari kecil sampai umur baligh
sudah melewati semua maqam ini, dan beliau dapat bertemu langsug dengan
Rasul Saw sewaktu bangun, sehingga beliau mulhaq bishshahabat dan boleh memarfu’-kan hadist langsug ke Rasulullah tanpa sanad.
Tidak ada hukum mursal, tadlis, munkar, matruk, dh oif dalam semua riwayat Imam Ghozali.
Pokoknya hadist apa pun yang datang dari beliau semuanya shohih
lizatihi, karena setiap detik Rasulullah Saw ada di samping beliau.
Kalau ada yang tidak percaya dengan yang saya katakan, maka saya jamin
di akhir hayat-nya dia akan mati suu’ul khatimah, dan akan menempati
neraka selamanya, tidak akan mendapat syafa’at sedikit pun.
Adapun para ulama mentakhrij hadist Ihya’ itu hanya sekedar zhohirnya saja, agar supaya Allah menampakkan mana yang suka men-i’tirodh wali-NYA mana yang berpegang teguh kepada wali-NYA, dan para Imam itu mereka tidak akan meng-i’tirodh Imam Ghozali. Karena mereka juga tahu bahwa Imam Ghozali langsug mengambil hadist ke Rasulullah dalam keadaan bangun, tapi ini harus disembunyikan agar tidak akan banyak orang yang kualat dengan wali-NYA, karena i’tirodh dengan hal ihwal Imam Ghozali. Wallohu a’lam
Tidak ada hukum mursal, tadlis, munkar, matruk, dh
Adapun para ulama mentakhrij hadist Ihya’ itu hanya sekedar zhohirnya saja, agar supaya Allah menampakkan mana yang suka men-i’tirodh wali-NYA mana yang berpegang teguh kepada wali-NYA, dan para Imam itu mereka tidak akan meng-i’tirodh Imam Ghozali. Karena mereka juga tahu bahwa Imam Ghozali langsug mengambil hadist ke Rasulullah dalam keadaan bangun, tapi ini harus disembunyikan agar tidak akan banyak orang yang kualat dengan wali-NYA, karena i’tirodh dengan hal ihwal Imam Ghozali. Wallohu a’lam
